Showing posts with label Manajemen waktu. Show all posts
Showing posts with label Manajemen waktu. Show all posts
Bismillah...

Berkah adalah sedikitnya mencukupkan dan banyaknya tidak membawa musibah. Sehingga kalau waktu kita berkah, maka waktu kita yang sedikit akan terasa cukup untuk menyelesaikan banyak hal. Sedangkan, waktu yang luang tidak menjadi sia-sia karena banyaknya malah membuat alfa.
Di dalam agama yang sempurna, agama Islam, kita telah diberi petunjuk waktu-waktu mana yang diberkahi. Waktu-waktu yang kalau kita mengerjakan sesuatu akan menjadi lebih produktif dari waktu-waktu yang lainnya.

Waktu Pagi Adalah Waktu yang Penuh Berkah
Waktu pagi telah dido’akan khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai waktu yang penuh berkah.
Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Sesuatu yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada waktu tertentu) adalah waktu yang berkah dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik uswah (suri teladan) bagi umatnya. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu yang lainnya karena pada waktu pagi tersebut adalah waktu ketika kita sedang bersemangat (fit) untuk beraktivitas.
Skakhr al Ghamidi, “Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengirim pasukan perang adalah mengirim mereka di waktu pagi”. Shakhr al Ghamidi sendiri adalah seorang pedagang. Kebiasaan beliau jika mengirim ekspedisi dagang adalah memberangkatkannya di waktu pagi. Akhirnya beliau pun menjadi kaya dan mendapatkan harta yang banyak.

Contoh paling anyar dari orang yang berhasil memanfaatkan waktu paginya adalah dari peraih Nobel tahun 2015 di bidang Psikologi dan Kedokteran, Prof. Satoshi Omura. Ternyata beliau biasa memulai kerjanya di pagi hari mulai pukul 6 pagi, untuk menulis dan membaca jurnal ilmiah. Dari kebiasaannya itulah beliau akhirnya bisa menghasilkan penemuan-penemuan hebat di bidangnya.

Tidak Tidur Setelah Subuh
Tidur setelah subuh adalah penyebab banyak orang tidak melakukan aktifitas yang bermanfaatnya di waktu pagi. Salah satu cara agar tidak mengantuk atau tertidur setelah shalat subuh adalah dengan tidur malam di awal waktu atau tidur setelah shalat isya. Selain itu, kita juga dianjurkan untuk tidur siang (Qoilulah), untuk sekejap mengistirahatkan tubuh kita yang sudah beraktifitas di pagi hari.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya’ dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)

Referensi:
Rumaysho.com, "Keberkahan di Waktu Pagi", 12 Agustus 2012.
http://www.kitasato.ac.jp/english/people/SatoshiOmura.html

Bismillah..
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” [H.R. Tirmidzi]
Sebenarnya cukup dengan satu hal yaitu, meninggalkan hal yang tidak bermanfaat, maka itu sudah sangat cukup untuk mengatur waktu. Untuk mengetahui apakah waktu yang kita punya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, maka sebaiknya waktu yang telah kita habiskan harus dievaluasi. Misalnya, ketika selesai menunaikan sholat Dzuhur, kita bisa mengevaluasi waktu-waktu yang kita gunakan dari bangun tidur sampai sholat Dzuhur. Apakah sudah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Selain itu, cara mengevaluasi lainnya yaitu menggunakan kertas kosong disebelah kita. Tuliskan hal-hal apa saja yang kita kerjakan, baik itu yang bermanfaat (membaca article, menulis, dsb) maupun yang tidak bermanfaat (nonton cuplikan bola, dsb). Nanti dari sana kita akan tahu mana waktu-waktu yang tidak bermanfaat yang telah kita sia-sia kan. Pengalaman yang penulis alami setelah mengevaluasi waktu, ternyata banyak waktu yang kurang bermanfaat yang dihabiskan untuk main facebook. Sehingga dari hasil evaluasi ini, diputuskan untuk men-deaktivasi akun facebook.
"Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain". (Al Insyirah: 7)
Dengan menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan berarti kita tidak boleh melakukan refresing atas kejenuhan pekerjaan kita. Refresing sebenarnya bisa dilakukan dengan mengganti pekerjaan yang satu dengan pekerjaan yang lain. Seperti dijelaskan di Surat Al Insyirah ayat 7. Jika telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Misalnya, jika kita jenuh membaca artikel riset, kita bisa mengganti pekerjaan membaca dengan pekerjaan yang lebih ringan seperti merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja kerja atau dengan pekerjaan lainnya yang tidak memerlukan konsentrasi tinggi.
Trik lain untuk meninggalkan hal yang kurang bermanfaat yaitu dengan membuat to-do-list. Dengan membuat to-do-list, kita akan menyadari bahwa waktu yang kita punya, tidak sebanding dengan pekerjaan yang harus kita lakukan. Sebagai penutup, penulis mengutip pepatah Arab.
"Waktu itu bagaikan pedang, kalau engkau tidak potong waktu itu, maka waktu tersebut yang akan memotong kalian" 
Maksudnya adalah jika jiwamu tidak disibukkan dengan kebaikan, maka dia akan menyibukkanmu keburukan atau minimal sesuatu yang tidak bermanfaat.

Semoga bermanfaat,
Hamamatsu, 15 Ramadhan 1436 H
Sumber gambar dari sini
Bismillah...


Manajemen waktu adalah cara untuk mengatur waktu dalam mengerjakan berbagai aktifitas sehari-hari, termasuk ibadah dan pekerjaan. Mengapa waktu penting untuk diatur? Karena waktu merupakan sesuatu yang sangat penting dan sangat berharga bagi manusia. Lantas dari mana sumber utama manajemen waktu itu?

Ketika ada sahabat yang bertanya kepada Siti Aisyah RA tentang Akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dia menjawab: “Akhlak Nabi Shallallahu’Alaihi Wasallam adalah Al-Qur’an”. Dengan Al-Qur’an uswatun hasanah kita itu mengelola waktu, mengelola keluarga, mengelola negara dengan segala aspeknya dan bahkan juga mengelola segala urusan umat akhir jaman. Al-Qur’annya masih sama, mengapa seolah aneh bila kita ingin mengelola segala urusan kita dengan petunjuk yang ada di Al-Qur’an ? InsyaAllah hanya perlu pembiasaan saja.

Di dalam Al-Qur'an, Allah bersumpah pada beberapa surat Makkiyah. Menurut pendapat para ahli tafsir, apabila Allah telah bersumpah dengan sesuatu dari ciptaan-Nya, maka itu untuk menjadikan pandangan manusia agar tertuju kepadanya dan mengingatkan mereka akan manfaatnya yang besar dan pengaruhnya yang abadi.

وَٱلۡعَصۡرِ (١
"Demi masa." (Al-'Ashr: 1)

وَٱلضُّحَىٰ (١) وَٱلَّيۡلِ إِذَا سَجَىٰ (٢
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)" (Adh-Dhuhaa: 1-2)


وَٱلۡفَجۡرِ (١) وَلَيَالٍ عَشۡرٍ۬ (٢) 
"Demi fajar dan malam yang sepuluh" (Al Fajr: 1-2)


وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَغۡشَىٰ (١) 
"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)" (Al-Lail: 1)

Selain itu, di dalam assunnah (hadist), Rasulullah juga menyatakan pentingnya waktu dan tanggung jawab manusia akan waktu yang telah diberikan di hadapan Allah pada hari pembalasan kelak. Dalam sebuah hadist, manusia akan ditanya tentang empat pertanyaan penting, 50% dari pertanyaan tersebut berkaitan dengan waktu, yaitu umurnya secara umum dan masa mudanya secara khusus.

Dari Mu'adz bin Jabal, Rasulullah  bersabda: “Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya empat perkara: usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, serta ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya.” (HR. Al-Bazzar dan At-Thabrani)

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya)

Mengapa masa muda ditekankan secara khusus, karena pada masa muda memiliki arti yang istimewa. Masa kehidupan yang ceria, penuh semangat dan penuh dengan cita-cita. Selain itu, di masa ini juga merupakan masa di antara dua kelemahan; kelemahan masa anak-anak dan kelemahan masa tua (QS Ar Ruum: 54).

Referensi:
  • Dr. Yusuf Qardhawi, "Manajemen Waktu Dalam Islam", ditemahkan oleh: Ma'mun Abdul Aziz, Jakarta: Firdaus Pressindo, 2014.
  • Geraidinar.com, "Satu Solusi Untuk Semua", 12 Juni 2015.
Lima Perkara Sebelum Lima Perkara
Rasulullah SAW mengingatkan pada kita tentang lima perkara sebelum datangnya lima perkara, dalam hadistnya :
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :
[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.”
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)