Showing posts with label Do'a. Show all posts
Showing posts with label Do'a. Show all posts
Bismillahh...




Menikah memang penuh dengan berkah. Hampir satu tahun sudah bahtera rumah tangga kami lalui dan Alhamdulillah pada hari Jumat 28 Juni 2013 kami diamanahkan Allah seorang bayi laki-laki. Bayi yang kami beri nama "Muhammad Ryota Dzaky". Semoga menjadi anak shaleh, ber-akhlak mulia, sehat, cerdas, dan menjadi penyejuk hati kami. Aamiin..

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامً
"Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa"


Tasikmalaya, 2013.06.28

عنْ أبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمْ – قَالَ: تُنْكَحُ المَرْأةُ لِأَرْبَعٍ: لمِالِهَا، وَلِحَسَبِهَا،
وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكْ[1]

Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata: “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”.





Penjelasan:
(تُنْكَحُ المَرْأةُ لِأَرْبَعٍ), Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara. 
Jika anugrah itu membahagiakan

Maka cinta yang [katanya] merupakan anugrah dariNYA
Seharusnya juga membahagiakan

Namun adakalanya
Ada yang merasa tak bahagia dengan cinta
Atau janganlah terlalu dini menyebutnya cinta
Mari kita sebut saja sebuah rasa

Rasa yang berbeda
Yang [lagi-lagi katanya] menggetarkan jiwa
Bismillah..


Setelah sebelumnya membahas tentang kesiapan kita untuk melangkah kedepan. Dan dilanjutkan dengan yakin bahwa takkan lari jodoh dikejar. Tapi, kok jodoh belum datang-datang juga ya.. Jawabannya cuma satu: ya sabar aja.. Mungkin kita perlu lebih 'husnudzon' kepada Allah.

Kata husnudzon atau berbaik sangka kepada Allah ini memang ilmu yang mudah diucapkan dan InsyaAllah mudah juga untuk diamalkannya.

Jika kita analogikan prasangka baik kita kepada Allah dengan kasus seperti ini:


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.


Ikwan fillah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.

Shalawat serta salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.

Dalam kesempatan yang mulia ini kami akan membawakan tema tentang “Mengendalikan Lisan dan Tulisan dari Ghibah”.

NIKMAT LISAN
Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menganugerahkan kepada manusia nikmat yang sangat banyak dan besar. Di antara nikmat Allah yang terbesar, setelah nikmat iman dan Islam, ialah nikmat berbicara dengan lidah, nikmat kemampuan menjelaskan isi hati dan kehendak.

Allah Ta'ala berfirman:
"Allah yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur`an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara". [ar-Rahmân/55:1-4].


Jabir bin Abdullah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. mengajarkan kepada para sahabat untuk beristikharah dalam segala perkara, seperti beliau mengajarkan mereka surat Al-Qur'an. Beliau bersabda: "Kalau salah seorang di antara kalian hendak melakukan sesuatu hal, hendaknya ia malaksanakan shalat dua rakaat selain shalat wajib, kemudian berdoa: